Upaya Dalam Menerapkan Disiplin

Upaya Dalam Menerapkan Disiplin

Upaya Dalam Menerapkan Disiplin

Upaya Dalam Menerapkan Disiplin

 

Menurut Madson & Wayson (dalam Shochib, 1998: 21)

Bahwa kepemilikan disiplin memerlukan proses belajar. Pada awal proses belajar perlu ada upaya orang tua. Hal ini dapat dilakukan dengan cara (1) melatih, (2) membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai berdasarkan acuan moral. Jika anak telah terlatih dan terbiasa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral maka (3) perlu adanya kontrol orang tua untuk mengembangkannya (Shochib, 1998: 21).

Ketiga upaya tersebut dinamakan kontrol eksternal. Kontrol yang berisonansi demokrasi dan keterbukaan ini memudahkan anak untuk menginternalisasi nilai-nilai moral. Kontrol eksternal ini dapat menciptakan dunia kebersamaan yang menjadi syarat esensial terjadinya penghayatan bersama antara orang tua dan anak (Ausubel, dalam Wilson: 1971: 79; dan Madson, 1983: 13; Savage, 1991: 32; dalam Shochib, 1998: 22).

Kontrol internal merupakan kontrol diri yang digunakan anak dalam mengarahkan perilakunya (Gnagey, 1981: 117; Savage, 1991: 1-9; Duval, 1970: 23-24). Disiplin diri merupakan perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan karena dikontrol oleh nilai-nilai moral yang terinternalisasi menurut Wayson, sebagaimana dikutip oleh Shochib, (1998: 22).

 

Kontrol diri memiliki substansi asesmen diri

Perekaman diri, determinasi diri terhadap penguatan, dan administrasi diri terhadap penguatan menurut Gnagey (dalam Shochib, 1998: 22). Asesmen diri dapat dimiliki anak jika orang tua mampu membantu anak menyadari dan menghayati perilaku-perilakunya. Artinya dalam hal ini orang tua dituntut untuk membantu anak agar dapat membaca perilaku-perilakunya. Apakah mereka telah melakukan penyimpangan terhadap nilai-nilai moral atau telah melakukan tindakan sesuai dengan nilai-nilai moral. Jika mereka telah mampu melihat perilaku-perilakunya maka dengan sendirinya mereka akan menyadari apakah perilaku-perilakunya telah menyimpang atau tidak dari nilai-nilai moral. Kesadaran ini akan menghindarkan mereka dari mengulang kesalahan yang sama serta dapat meningkatkan perilakuperilaku yang patuh terhadap nilai-nilai moral.

 

Menurut Shochib (1998: 23) penempatan nilai-nilai moral

Sebagai acuan utama bagi anak untuk memiliki kontrol diri secara internal akan senantiasa merujukkan diri anak pada nilai-nilai moral. Sehubungan dengan itu, upaya orang tua dalam mendisiplinkan diri anak pada dasarnya mengupayakan anak-anaknya untuk berperilaku yang sadar nilai-nilai moral.

Mangoenprasodjo & Hidayati, (2005: 107) menjelaskan bahwa konsisten adalah kunci efektif dalam hal menerapkan disiplin. Pihak yang membuat peraturan harus mampu bersikap konsisten terhadapnya. Bersamaan dengan menentukan perilaku bagaimana yang harus dihukum, jangan lupa beri penghargaan pada perilaku positif. Disiplin bukan sekedar hukuman, karena jika menghukum anak dengan jangka waktu yang lama dan berlebihan, justru ia tidak akan termotivasi untuk mengubah perilakunya karena ia merasa semua haknya telah hilang.

Dalam Sidjabat (2008: 189) Dobson mengemukakan bahwa untuk mendisiplinkan anak, kita dapat memperkuat sikap dan perilaku positif yang diperlihatkan dengan jalan menghargainya. Kalau ada hal positif, dimana perbuatan anak patut dipuji, ia patut mendapatkan sanjungan orangtua. Jangan dianggap sepi atau dipandang remeh upaya anak dalam hal kebaikan dan ketertiban hidup. Anak membutuhkan afirmasi, pujian, pengakuan jika memang patut dilakukan. Orangtua jangan gengsi mengakui sikap dan perbuatan baik anaknya. Prinsip ini disebut upaya penguatan atau reinforcement.

 

Hal ini dapat dilakukan dengan memberi hadiah karena ia berbuat baik.

Menurut Dobson (dalam Sidjabat, 2008: 190), perkara lain yang harus diperhatikan dalam membangun sikap disiplin pada diri anak ialah prinsip kerjasama. Untuk menimbulkan rasa tanggung jawab dalam diri anak, orang tua perlu menyatakan keinginannya kepada anak. Orangtua mengkomunikasikan niat hatinya kepada anak, tidak hanya mengatakan harus begitu atau harus begini. Jika orangtua meminta pendapat atau minta tolong kepada anaknya tidaklah salah, justru dapat membuat anak merasa berharga.

Menurut Mangoenprasodjo & Hidayati, (2005: 109) menjelaskan bahwa disiplin dalam keluarga sebenarnya adalah pendidikan. Mendisiplinkan anak tidak identik dengan menghukum atau mengatur, namun lebih pada mengajarkan dan mendidik anak untuk berperilaku dan menerapkan nilai-nilai moral. Sebagai bagian dari pendidikan dalam disiplin, masalah keteladanan sangat penting. Anak akan meniru apa yang dilakukan orangtua.

Lebih lanjut Dr. Singgih D. Gunarsa, (dalam Mangoenprasodjo & Hidayati, 2005: 116-117), menjelaskan bahwa disiplin diri pada anak dapat dipupuk dengan memberikan tata tertib yang mengatur hidup si anak. Tata tertib disertai dengan pengawasan dan pemberian pengertian pada setiap pelanggaran, tentunya akan menimbulkan rasa keteraturan dan disiplin diri. Dengan adanya rasa disiplin, maka rasa segan, rasa malas, rasa menentang dapat dengan mudah diatasi, seolah-olah tidak ada rintangan maupun hambatan lainnya yang menghalangi kelancaran bertindak. Selain itu tujuan dari disiplin adalah mengajarkan individu tingkah laku yang dapat diterima.

Mangoenprasodjo & Hidayati, (2005: 116) menjelaskan bahwa disiplin, pada hakekatnya merupakan suatu proses dari latihan atau belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan. Disiplin pada hakekatnya bukan berupa hukuman, tetapi untuk koreksi dan latihan membimbing pada tindakan masa depan. Tujuan dari disiplin adalah untuk membuat anak-anak terlatih dan terkontrol, dengan mengajarkan pada mereka bentuk-bentuk tingkah laku yang pantas dan tidak pantas atau yang masih asing bagi mereka. Dalam mengajarkan disiplin dituntut untuk senantiasa bersikap sabar.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa upaya yang dapat diterapkan dalam mendisiplinkan yaitu memperkuat sikap dan perilaku positif yang diperhatikan dengan jalan menghargainya. Upaya mendisiplinkan adalah mengajarkan dan mendidik seseorang untuk berperilaku dan menerapkan nilai-nilai moral. Sebagai bagian dari proses mendidik dalam disiplin, memberikan keteladanan juga dibutuhkan. Agar seseorang yang belum menerapkan sikap disiplin dapat meniru apa yang dilakukan orang lain yang bersifat positif. Konsisten adalah kunci efektif dalam hal menerapkan disiplin.

Pihak yang membuat peraturan harus mampu bersikap konsisten terhadapnya. Bersamaan dengan menentukan perilaku bagaimana yang harus dihukum, jangan lupa beri penghargaan pada perilaku positif. Selain itu menerapkan prinsip kerjasama juga diperlukan didalam mewujdkan kebiasaan dalam bersikap disiplin.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/ 

icpwa