Hadapi Tantangan Masa Depan, GSM Dorong Sekolah Lakukan Self Disrupsi

Hadapi Tantangan Masa Depan, GSM Dorong Sekolah Lakukan Self Disrupsi

Hadapi Tantangan Masa Depan, GSM Dorong Sekolah Lakukan Self Disrupsi

Hadapi Tantangan Masa Depan, GSM Dorong Sekolah Lakukan Self Disrupsi

Guna menghadapi masa depan, sistem pendidikan di Indonesia

harus melakukan self disruption yakni, melakukan perubahan yang fundamental pada sistem pengelolaan hingga proses belajar mengajar agar adaptif terhadap perubahan yang sangat cepat dan tidak menentu. Oleh karena itu self disruption harus diawali dengan mengubah pola pikir atau ideologi pendidikan saat ini bagi guru atau orangtua agar transformasi perubahan dapat cepat dilakukan.

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal mengatakan, self disruption akan mendorong sekolah gesit untuk berubah. “Tak perlu menunggu pihak lain atau kebijakan top down pemerintah yang cenderung berbelit-belit karena prasyarat untuk memenangkan persaingan di era milenial adalah yang cepat dan gesit bukan yang kuat atau besar,” katanya, Kamis, (31/5).

Pola pikir self disruption tersebut, terang Rizal, antara lain sekolah

tidak boleh merasa nyaman dengan kondisi pendidikan saat ini. Sekolah harus gelisah menanyakan pada dirinya sendiri apakah pendidikan yang diselenggarakan cocok dengan kebutuhan generasi milenial atau dapat membangun kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja ke depan.

Generasi milenial, ujar dia, membutuhkan pendidikan yang personalised yang memberikan otonomi dalam belajar, bukan yang menyeragamkan. Mereka butuh pengajaran pendampingan bukan ceramah klasikal karena cenderung monoton dan tidak mengembangkan setiap kekuatan siswa.

Cara belajarnya juga bergaya eksploratif bukan abstrak sehingga pembelajarannya

lebih otentik dan memicu kekritisan. Sekolah jangan takut bertransformasi dari sistem lama ke sistem baru. Transformasi meliputi mindset, ekosistem, budaya atau lingkungan belajar hingga sistem pedagogi.

Sekolah, lanjutnya, perlu membuat disruptive innovation agar situasi disrupsi tidak dimaknai sebagai ancaman melainkan peluang untuk menciptakan iklim kreativitas atau pemikiran yang beragam.

 

Baca Juga :

 

 

icpwa