Era Disrupsi Ancam Pranata Pendidikan

Era Disrupsi Ancam Pranata Pendidikan

 

Era Disrupsi Ancam Pranata Pendidikan

Era Disrupsi Ancam Pranata Pendidikan

 

 

Era disrupsi atau era teknologi Industri 4.0 membawa tantangan serius bagi semua lembaga pendidikan

yang menyiapkan tenaga-tenaga terampil dan profesional. Kurikulum sebagus apa pun tidak akan mampu mengantisipasi gejolak dan perubahan-perubahan di luar kampus yang dipicu oleh perkembangan teknologi yang luar biasa.

Hal ini dikatakan dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santo Paulus Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Marselus Ruben Payong, dalam seminarbertajuk “Menjadi Sarjana yang Adaptif, Inovatif, dan Humanis di Era Milenial” di Ruteng, Kamis (4/10).

Seminar yang digelar dalam rangka wisuda lulusan STKIP Santo Paulus Ruteng tahun akademik 2017/2018

tersebut juga menghadirkan pembicara lain yakni dosen Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nobert Jegalus, dan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Santu Paulus Ruteng, Marianus Mantovany Tapung.

Menurut Lektor Kepala dalam bidang Teknologi Pendidikan itu, era disrupsi, cepat atau lambat akan menggerus peran pranata pendidikan yang sudah lama mapan dari aktivitas yang melestarikan nilai-nilai (conserving activity) menjadi aktivitas transformasional sebagai pendobrak tata nilai (subversive activity).

“Bukan tidak mungkin, dengan adanya teknologi pembelajaran seperti massive open online course (MOOC),

virtual classroom, open education, online learning, web-based education, suatu saat akan mengubah wajah pendidikan di dunia di mana pendidikan bukan lagi merupakan pranata yang melembagakan previlese tertentu tetapi menjadi sebuah pranata yang terbuka dan mudah diakses oleh siapa saja tanpa pandang usia, status sosial, dan kedudukan,” kata dia.

Kondisi ini, kata alumnus Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu, akan menyebabkan tidak ada lagi diferensiasi antara kaum terdidik dan non terdidik, kaum cendekiawan dan kaum awam, kaum profesional dan non profesional.

“Bahkan bukan tidak mungkin gelar-gelar akademik suatu saat tidak akan ada artinya lagi karena akses terhadap pengetahuan, keterampilan dan keahlian profesional bukan lagi menjadi previlese kelompok tertentu,” imbuhnya.

Menurut Asesor BAN PT itu, dengan era disrupsi, di masa depan pendidikan akan semakin terkostumisasi (costumized), didesain sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sesaat dan secepatnya akan ditinggalkan.

Ini menjadi tantangan serius bagi lembaga-lembaga pendidikan yang masih setia dengan kurikulum-kurikulum nasional yang sentralistik, dengan standar-standar proses dan standar-standar evaluasinya maupun standar pengelolaan yang tidak mau berubah.

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/

icpwa