Critical Planning

Critical Planning

Critical Planning

Critical Planning

Critical planning merupakan (1) ketepatan merespon dan menformulasikan isu, (2) interaksi dengan publik yang dilakukan dengan tepat, (3) hal tidak miopik/sempit (Widiarto, 2005). Terlebih dahulu Kemp (1980) berpendapat bahwa critical planning adalah mencari pemahaman tentang hubungan kekuatan politik dan ekonomi yang membentuk dan dibentuk dalam proses perencanaan, serta menunjukkan bentuk eksistingnyaPemahaman terhadap critical planning dimulai dari bagaimana critical thinking dan critical theory dipahami sehingga pemahaman dasar yang timbul adalah bagaimana teori kritik memberikan kontribusi berupa metoda baru untuk memahami perencanaan atau apa yang dilakukan perencana adalah lebih pada communicative action daripada instrumental action. Kandungan teori kritik terhadap perencanaan tidak hanya bersifat empiris, interpretatif dan normatif. Tetapi juga praktis (pragmatics with vision), karena dapat membantu mengatasi dan mengantisipasi (a) keragu-raguan dan ketidakpercayaan perencana, (b) hambatan dalam meninjau desain perencanaan secara efektif dan proses perencanaan yang demokratis, (c) kontraproduktif dalam praktek perencanaan. Forester (1980) kembali menegaskan bahwa teori kritik sosial untuk perencanaan adalah (a) bagaimana suatu perencanaan dapat bekerja sebagai aksi yang komunikatif, (b) bagaimana suatu perencanaan dan kekuatan ekonomi-politik dapat bekerja untuk menghambat/mendukung proses perencanaan yang demokratis, (c) bagaimana suatu teori perencanaan dapat memprediksikan perencanaan secara empiris dan normatif, serta strategi pragmatis dan ber-visi politis.

Prinsip-prinsip dan Tinjauan kritis terhadap Critical Planning

Pada prinsipnya critical planning memiliki proses yang terpadu dimana planning menuntut cara berpikir yang komprehensif, yaitu secara menyeluruh dengan memikirkan berbagai aspek berkenaan dengan informasi yang diterima. Dengan mempertimbangkan pula hubungan yang berkaitan antara informasi yang diterima sampai membentuk validitas yang bisa diterima atau disepakati. Kemudian dalam prakteknya diperlukan tindakan yang tepat pada sasaran, dengan mengkombinasikan hasil dari pemikiran dengan kondisi aktual yang sedang dihadapi sebagai bentuk penerapan perencanaan. Komunikasi dan perencanaan sebagai aksi sosial merupakan hal yang tidak natural. Oleh karena itu diperlukan norma-norma yang dapat dipahami (comprehensibly), sungguh-sungguh (sincerely), sah dan logis (legitimately), memiliki kebenaran (truth) dalam proses komunikasi perencanaan.

Sebuah paradigma bahwa Teori Critical Planning dapat digambarkan dalam tiga kategori: (a) pendekatan kritik (critique as criticism) menekankan pada isu status quo dimana perencanaan sebagai suatu yang ortodok untuk mendukung status quo (b) pendekatan analitik (critique as reconstruction) menekankan pada isu perencanaan sebagai alat kapitalis sehingga dengan cara tersebut dia mampu melegitimasi intervensi pemerintah untuk tujuan mensejahterakan masyarakat (c) pendekatan normatif (critique as reason) menekankan pada isu validity-claim (tuntutan keabsahan). Dimana pada saat sebuah bentuk communicative planning tertekan/terdistorsi maka validity-claim dapat didiskusikan dalam sebuah forum (debat). Dalam kaitannya dengan aktivitas perencanaan sebagai proses komunikasi, Forester menunjukkan bahwa proses tersebut menjadi ”tidak perlu” mengingat secara sistematis telah terdistorsi oleh ideologi politik. Tinjauan yang mengkritisi critical planning sebagai bagian perencanaan adalah tidak menciptakan solusi yang nyata dan hanya menyediakan kerangka kerja. Kemudian menimbulkan pertanyaan yang sistematik daripada sebuah hipotesis dari suatu eksperimen. Sehingga seringkali membawa masyarakat pada tindakan yang menghasilkan permasalahan baru dan cenderung memperumit masalah.

Pernyataan yang mencerminkan Critical Planning adalah Think Globally, Act Locally and Do Appropriatelydimaksudkan untuk menjelaskan bahwa critical planning menuntut cara berpikir yang komprehensif dan cara bertindak yang strategik. Dalam pengembangan critical planning seorang perencana harus memperhatikan: (1) efek knowledge terhadap sebuah kritik karena seringkali knowledge ini mendistorsi atau terdistorsi oleh kepentingan politik-ekonomi (2) sebuah kritik yang dilontarkan oleh publik (meskipun itu berpengaruh terhadap perencanaan secara ekstrim), tidak ditanggapi sebagai sebuah ancaman terhadap profesi dan keahlian Perencana. Akan tetapi sebagai sebuah fenomena pembelajaran demokrasi (3) kepentingan Sosialis vs Kapitalis dengan menjembatani antara keduanya yang melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/magic-nightfall-apk/

icpwa