Berbagai Pendekatan dalam Pembelajaran Sastra

Berbagai Pendekatan dalam Pembelajaran Sastra

Berbagai Pendekatan dalam Pembelajaran Sastra

Berbagai Pendekatan dalam Pembelajaran Sastra

Pendekatan adalah

Cara umum seorang guru memandang persoalan atau objek sehingga diperoleh kesan tertentu. Kesan yang muncul ini bagi seseorang mungkin saja berbeda dengan yang lainnya dan ini akan sangat berpengaruh pada pemilihan metode atau strategi bahkan materi pembelajarannya. Menurut Djago Tarigan (1995), pendekatan adalah seperangkat asumsi yang bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa, pengajaran, bahan dan belajar bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melakukan dan menilai proses belajar bahasa.

Seorang guru yang hanya menggunakan pendekatan komunikatif dia akan berupaya menggunakan pendekatan komunikasinya. Aliran metalis memandang pengajaran bahasa harus dimulai secara metalis (membaca). Namun pendekatan strukturalisme mementingkan penguasaan tata bahasa (struktur).

 

Pada dasarnya pendekatan dalam pengembangan kemampuan

Berbahasa pada anak banyak dipengaruhi oleh beberapa aliran psikologi yang pada aplikasinya memberikan kemudahan bagi guru. Demikian juga dengan teori-teori psikologi lainnya yang telah memberikan kontribusi terhadap aplikasi pendekatan pengembangan kemampuan berbahasa. Beberapa pendekatan dalam perkembangan bahasa pada teori-teori psikologi di antaranya adalah sebagai berikut.

 

Pendekatan behavioristik

Berdasarkan pendekatan ini proses penguasaan kemampuan berbahasa sebenarnya dikendalikan dari luar. Ini merupakan akibat berbagai rangsangan yang diterapkan linngkungan kepada si anak. Bahasa sebagai wujud prilaku manusia dan merupakan kebiasaan yang harus dipelajari. Jadi kemampuan berkomunikasi anak melalui bahasa pada prinsipnya sangat ditentukan oleh stimulus, respons, dan peniruan.

 

Pendekatan nativisme

Berdasarkan pendekatan ini dinyatakan bahwa anak sudah dibekali secara alamiah dengan apa yang disebut Language Acquisition Device (LAD). Language Acquisition Device sudah diprogramkan untuk mengolah butir-butir tata bahasa yang dianggap sebagai suatu bagian dari otak. Language Acquisition Device membekali anak dengan kemampuan alamiah untuk dapat berbahasa. Dengan demikian belajar berbahasa pada hakikatnya hanya mengisi detail dalam struktur yang sudah ada secara alamiah.

 

Pendekatan kognitif

Pada pendekatan ini dinyatakan bahwa kemampuan berbahasa anak berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif anak. Bahasa dalam pandangan kognitif distrukturisasi dan dikendalikan oleh nalar. Dengan demikian perkembangan kognisi sangat berpengaruh pada perkembangan bahasa.

 

Pendekatan interaksional

Pendekatan ini berkaitan dengan pendekatan kognitif, dimana anak mempunyai potensi dasar (kognitif) dari bawaannya yang tidak terlepas dari pengaruh lingkungan melalui proses interaksi dalam pemerolehan bahasa.

 

Pendekatan pragmatik

Menurut pendekatan ini keterampilan bahasa dapat dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor penentu. Faktor-faktor tersebut meliputi: (1) pemeran serta (siapa); (2) tujuan; (3) situasi; (4) konteks, dan aspek yang harus dikembangkan berupa emosi, moral, sosial dan intelektual.

Dalam konteks pembelajaran bahasa, model pengajaraannya pun seringkali didasarkan pada metode-metode atau pendekatan-pendekatan khusus, di antaranya (1) pendekatan komunikatif, pendekatan ini lebih difokuskan pada komunikasi autentik, kefasihan berbahasa lebih diutamakan, (2) model pembelajaran kooperatif, model ini lebih difokuskan pada kerja kelompok antar siswa, (3) pendekatan proses yaitu, dalam proses pembelajarannya dilakukan dengan menggunakan proses planning, generating ideas, drafting, reviewing, revising and editing, dan (4) pendekatan whole language, pada pendekatan ini bahasa diajarkan secara utuh (Richards, 2001: 215-216).

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/

icpwa