Belajar dari Siswa, Seribu Guru Bertemu Wujudkan Cara Mengajar Aktif

Belajar dari Siswa, Seribu Guru Bertemu Wujudkan Cara Mengajar Aktif

Belajar dari Siswa, Seribu Guru Bertemu Wujudkan Cara Mengajar Aktif

Belajar dari Siswa, Seribu Guru Bertemu Wujudkan Cara Mengajar Aktif

Sebanyak seribu guru bertemu dalam Temu Pendidik Nusantara 2017: Konferensi Tahunan Guru Belajar di GOR Ragunan, Jakarta Selatan, pada 13-15 Oktober 2017. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal. Lewat Temu Pendidik Nusantara, para guru berbagi praktik yang cerdas dan hasil riset tentang pengajaran. Guru mewujudkan pendidikan cara mengajar yang aktif dan menyenangkan.

“Selain itu, kami juga ingin membantu pengembangan potensi guru dengan menyelenggarakan berbagai kelas dengan beragam topik,” kata pendiri Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab.

Para guru diajak bertualang belajar di Kelas Penggerak, Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi, dan Kelas Karier. Pada tahun ini, Temu Pendidik Nusantara mengambil tema “Belajar dari Anak: Menumbuhkan Kemerdekaan dalam Pendidikan”. Tema tersebut dipilih karena melihat potensi belajar yang tinggi justru ada pada anak-anak. Umumnya, anak-anak dipandang sebagai objek yang membebani dalam dunia pendidikan.

Anak-anak menjadi murid yang duduk, menerima materi, dan mematuhi aturan yang diberikan

. Kunci dari terwujudnya konsep belajar dari anak adalah kemauan pendidik untuk menumbuhkan dan melawan salah kaprah yang selama ini ada dalam proses guru belajar dan perubahan pendidikan.

Temu Pendidik Nusantara 2017 mendorong guru untuk terus menjadi penggerak perubahan di ekosistem pendidikan. Para guru berasal dari Sanggau, Lubuklinggau, Makassar, Dompu, Bulukumba, Pekanbaru, Ambon, Pekalongan, Lombok, Banyuwangi. Hal ini merupakan wujud dari motivasi internal untuk terus belajar yang kadang-kadang justru hilang dalam praktik pengembangan guru di Indonesia.

Tidak hanya itu, dalam kesempatan kali ini juga diluncurkan buku yang bertajuk ‘Merdeka Belajar di Ruang Kelas’

, yang melengkapi referensi tentang pengembangan guru di Indonesia yang masih jarang dipercakapkan oleh guru itu sendiri. Terlaksananya Temu Pendidik Nusantara 2017 tidak lepas dari dukungan yang diberikan, baik secara pribadi, organisasi, dan juga korporasi yang peduli pendidikan.

“Hal ini diwujudkan dengan dukungan dari orang tua yang menyediakan tempat untuk menjadi tuan rumah bagi para guru,” jelas Najeela.

Dari sisi korporasi, Temu Pendidik Nusantara 2017 turut didukung oleh label kosmetik Wardah. Wardah mendukung adanya konsep belajar yang inovatif. Wardah melihat Temu Pendidik Nusantara adalah program yang dapat memberikan inspirasi bagi seluruh tenaga pendidik di Indonesia.

“Kami memberi dukungan bagi Temu Pendidik Nusantara karena visinya sesuai dengan semangat program

Wardah Inspiring Movement, yang mengajak masyarakat Indonesia untuk berbagi kebaikan dan menginspirasi sesama untuk berbuat baik,” tegas Chief Marketing Officer Wardah, Salman Subakat,

Dalam acara puncak Temu Pendidik Nusantara, Wardah mempersembahkan sebuah film pendek bertajuk “Sanggar Senja” yang dibintangi oleh Mathias Muchus. Film tersebut merupakan apresiasi dari Wardah kepada para pendidik yang dalam film diwakilkan oleh sosok Bang Adi. Film yang mengisahkan perjuangan Guru Adi dalam mendidik anak jalanan merupakan bukti nyata bahwa belajar juga bisa dilakukan dari siapa saja, termasuk anak-anak.

 

Baca Juga :

 

 

icpwa